Fayakhun Bakamla dan Realitas Kekinian

fayakun bakamla

Ini seperti rekayasa realitas melalui stimulasi dan simulasi sosial agar tercipta keadaan yang diinginkan. Stimulasi dilakukan melalui penanaman kesan ke dalam ingatan atau fikiran orang.

Fayakhun Bakamla dan Realitas Kekinian
Fayakhun Bakamla dan Realitas Kekinian


Contohnya begini:
Puasa Ramadan masih sebulan lagi, tapi iklan sirup Tarjan sudah tayang di televisi. Menyusul kemudian iklan sarung, dan iklan lainnya hingga terlihat masif. Semua simbol "Islam" sebagai sebuah "pesan" dikeluarkan dalam iklan.
Awalnya pesan yang ingin disampaikan tidak terlalu kentara "Berbukalah dengan sirup Tarjan" sebab Ramadan masih sebulan lagi. Pesan yang ingin disampaikan pada misi awal ini cuma satu: Ingat Ramadan, ingat Tarjan. Ingatan dihidupkan, kesan dibangkitkan, gairah selera dibikin bergelora, hingga hasrat tidak bisa lagi disumbat.

Untuk menopang terciptanya kondisi yang diinginkan, pesan yang disampaikan melalui iklan di media harus didukung semacam fakta di lapangan. Botol sirup Tarjan harus ada di semua pertokoan. Dipajang secara masif di bagian depan agar terlihat Woowwww....

Hal ini dimkasudkan agar, Jaka Sembung pakai sarung. Semua terlihat seperti sambung menyambung. Apa yang dilihat di TV memang ada dalam kehidupan nyata. Tujuannya untuk memperpendek ruang pilihan bagi khalayak. Ruang berfikir khalayak dipersempit agar tidak sempat lagi memilih sirup lain atau bahkan tidak berselera memikirkan sirup lain.
Dengan teknik ini, khalayak seperti terjepit tidak diberi ruang untuk sekedar mengoreksi Mengapa mendadak Tarjan? Khalayak seperti ranting kecil kering yang ikut hanyut dalam arus selokan. Terciptlah sudah kondisi yang diinginkan...

Bunga dan lilin (mungkin sebentar lagi Merpati) dapat disimbolkan merepresentasikan perdamaian dan pengorbanan. Papan bunga itu belakangan ini sering muncul dalam "kenyataan". Mungkin saja tidak lama lagi papan bunga itu menyebar di seluruh perkantoran di seluruh Indonesia dengan pesan yang hampir sama, Rakyat Indonesia cinta Damai.

Fayakhun Bakamla dan Realitas Kekinian

Pesan ini seperti tongkat komando yang menarik garis imajiner di atas tanah bahwa: ada kelompok lain yang ingin dibentuk sebagai kelompok yang tidak ingin Indonesia damai. Satu kelompok cinta damai, sisi lain ada kelompok yang tidak cinta damai. "Kelompok yang tidak cinta damai" inilah yang dikhawatirkan akan memecah Indonesia seperti pecahnya sejumlah negara di Timur Tengah.
Agar kesan dan fikiran khalayak sampai pada kondisi yang diinginkan, perlu stimulasi ingatan. Selain tebaran papan bunga, tidak mustahil hari-hari ke depan ruang media massa dan media sosial diisi oleh berbagai iklan, pemberitaan, liputan tentang perang di Timur Tengah atau video tentang perang di Timur Tengah. Selain itu, untuk menekankan 'situasi genting dan serius' sedikit operasi pembubaran mulai dilakukan agar efek dramatisnya muncul. Semua mengarah pada terciptanya satu kondisi.
Bagaimana seharusya kita melihat fenomena ini? Saya masih berkeyakinan, gunakan akal sehat. Argumennya, manusia adalah subjek (bukan objek) realitas. Melalui akal fikiran manusia akan ditentukan sebagai subjek atau objek realitas.

Pandangan ini akan membawa manusia sampai pada prinsip gagasan Rene Descrates, Cogito Ergo Sum, aku berfikir maka aku ada. Melalui akal fikiran, berbagai realitas palsu dapat dibongkar dengan berbagai kesangsian. Kebenaran dapat ditemukan setelah melewati keraguan dan kesangsian. Aku selalu ragu akan segala sesuatu...

BACA JUGA: Kisah Sukses Fayakhun Bakamla Beternak Kambing

Keraguan atas realitas itu secara sederhana dapat disusun dengan mengajukan pola berfikir jika ---> maka

1) Jika ada ancaman bersenjata, maka itu urusan tentara hingga rakyat diminta ikut berperang sebagai amalan dotrin Sishankamrata.
2) Jika ada ancaman ideologis, maka itu urusan aparat negara hingga warga diminta untuk turut membantu.
3) Jika ada ancaman politis, maka itu urusannnya politisi untuk menghadangnya.
4) Jika ada ancaman ekonomi, maka itu urusan ahli ekonomi untuk menghalaunya.
Janganlah semua urusan negara diserahkan pada rakyat. Biarkan rakyat hidup tenang dan bahagia.
Tapi kemudian pertanyaan yang paling mendasar dan substansial adalah, Apakah benar Indonesia dalam keadaan konflik dan di bawah bayang-bayang ancaman perang? Jika iya, maka apa sumber utama konfliknya? Jika sumbernya ancaman ideologis, maka mengapa tidak diproses hukum sebagai ancaman terhadap negara? Jika, sumbernya berasal dari satu orang, maka mengapa semua kekuatan seolah dikerahkan untuk membelanya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut melatih kita sebagai warga negara untuk selalu memelihara akal sehat...

SEKIAN DARI FAYAKHUN BAKAMLA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fayakhun Bakamla : TNI Dalam Framing Berita

Fayakhun Bakamla Berbagi Tips Budidaya Srikaya Tabulampot